Jumat, 06 November 2009

Tenggorokan yang kering


Aku menangis pada bulan, pada matahari, kepada bumi yang memancarkan api. Birahi hausku kian terasa.Bercak-bercak darah ada dimana-mana, di ujung kaki kuda, menusuk dada. Airmata bercampur luka. Tak lagi ada sakit. Sebab, aku tak kuasa lagi menangis dan sudah lupa, seperti apa rasa sakit itu. Aku hanya mengadu pada diriku sendiri. Kemarin dan hari ini, aku berpesta, memakan iga-igaku sendiri. Menyantap setiap bola mata yang jatuh.Sebab, airmata tak mau lagi menggenang di pelupuk mata. Setiap tetesnya, kumasukkan ke jiregen ini. Kupersiapkan untuk memasak esok pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar